Minggu, 04 November 2012

Selamatkan Penyu Indonesia dari Kepunahan


Kepulauan Indonesia merupakan satu dari sedikit tempat di dunia dimana penyu laut ditemukan. Menurut hasil penelitian terhadap fosil, cikal bakal penyu telah ada sejak 200 juta tahun yang lalu. Sedangkan sejarah kehidupan penyu modern baru dimulai jaman Moosen sekitar 60 juta tahun lalu, setelah jaman Karbon.

Keanekaragaman habitat perairan laut Indonesia (yang memiliki pesisir sepanjang 81.000 km, terdiri dari 17.508 pulau) telah menjadi tempat hidup 6 dari 7 spesies penyu yang ada di dunia.

Peta Konversi Penyu:

Dari keenam spesies tersebut:
CODE:

5 Penyu Penghuni Tetap Perairan Indonesia yang Membentuk Kelompok Sendiri.

  • Penyu Hijau/green turtel dengan nama latin "Chelonia mydas"
  • Penyu Sisik/hawksbill turtle dengan nama latin "Eretmochelys imbricata"
  • Penyu Belimbing/leatherback turtle dangan nama latin "Dermochelys cariacea"
  • Penyu Lekang/olive ridley turtle dengan nama latin "Lapidochelys olivacea"
  • Penyu Tempayan/loggerhead turtle deangan nama latin "Caretta caretta"
1 Penyu berada di perairan Timor dan Laut Arafuru
  • Penyu Pipih/flatback turtle dengan nama latin "Natator depressa"
Penyu Hijau

Penyu Sisik

Penyu Belimbing

Penyu Lekang

Penyu Tempayan

Penyu Pipih
Penyu adalah navigator yang sangat baik. Seringkali bermigrasi di jarak beratus-ratus atau bahkan ribuan KM antara daerah tempat makan dan bertelur. Penyu menghabiskan waktunya di laut tapi induknya sewaktu-waktu kembali ke darat untuk bertelur. Induk penyu bertelur dalam siklus 2-4 tahun sekali, datang ke pantai 4-7 kali untuk meletakkan ratusan butir telurnya dalam satu kali musim bertelur. Setelah 45-60 hari masa inkubasi, tukik (anakan penyu) muncul dari dalam sarangnya dan langsung berlari ke laut untuk memulai kehidupan sebagai binatang pelagik dan bergerak mengikuti arus. Ketika masa dewasa tiba setelah beberapa dekade, mereka bergerak masuk dan keluar dari berbagai lautan dan perairan pantai. Keberadaannya di lautan terbuka masih merupakan misteri yang belum terungkap sampai saat ini. Tingkat keberhasilan hidup sampai usia dewasa sangat rendah, sementara para ahli mengatakan bahwa hanya sekitar 1-2 % saja dari jumlah telur yang dihasilkan. Penyu di Indonesia menyebar hampir di seluruh pelosok pulau-pulau, sekitar 143 lokasi telah berhasil diidentifikasi.

Telur Penyu:


Penyebab Kepunahan Penyu di Indonesia
  • Cuaca buruk mengancam populasi penyu
    Kondisi cuaca buruk membahayakan populasi penyu, bayi penyu yang lahir akibat peningkatan hujan yang signifikan. Data dari pusat pembiakan penyu mengungkap bahwa ada 20.515 telur gagal menetas dari 54.228 telur yang dimonitor. Situasi ini merupakan akibat dari meningkatnya kelembaban tanah seiring dengan naiknya curah hujan. Kelembaban yang tinggi itu membuat banyak telur membusuk.

  • Gangguan Habitat Penyu
    Menurunnya populasi penyu di alam selain diakibatkan oleh terjadinya tingkat pemanfaatan yang karang terkendali dan bertentangan dengan kaidah-kaidah pengelolaan SDA hayati yang terperbaharukan. Pertentangan ini antara lain: penangkapan dan pembantaian secara berlebihan dengan menggunakan alat-alat tombak, panah, dan faring. Di samping itu adanya gangguan terhadap terumbu karang dan padang lamun sebagai habitat penyu, wilayah pesisir pantai sebagai tempat bertelur, dan adanya berbagai kegiatan pembangunan yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan, misalnya: pembangunan hotel, tambak, pelabuhan, pengerukan dan penambangan pengeboran minyak lepas pantai.



Pencegahan Kepunahan Penyu di Indonesia
  • Kesadaran Kita Menjaga Kelestarian Penyu
    Perlunya ditanamkan kesadaran yang mendalam akan pentingnya kaidah-kaidah pelestarian dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya penyu secara rasional.
  • Pengawasan
    Perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan ketentuan di bidang pengelolaan sumber daya penyu, penangkapan dan pengambilan telur.
  • Penegakan Hukum atas Perusakan Sumber Daya PenyuPenyu yang ada di Indonesia telah dilindungi UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Ekosistemnya dengan aturan pelaksanaannya PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
  • Koordinasi
    Perlu adanya koordinasi antara instansi terkait sehingga tidak terjadi pengelolaan yang tumpang tindih dan terhindarnya produk hukum yang berbeda tentang pengelolaan sumber daya penyu.
  • Penelitian, Pendidikan dan Pengelolaan Penyu
    Melakukan upaya-upaya penelitian, pengembangan, pendidikan, dan latihan yang berkaitan dengan pengelolaan konservasi sumber daya penyu.








0 komentar:

Poskan Komentar